BursaIndonesia.ID – Pada awal tahun 2025, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan yang signifikan. Pada perdagangan Kamis, 2 Januari 2025, rupiah ditutup pada level Rp16.198 per dolar AS, mengalami penurunan sebesar 0,41% atau 66 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.
Beberapa faktor yang memengaruhi pelemahan rupiah pada awal tahun 2025 antara lain:
- Kebijakan Ekonomi AS: Presiden AS yang baru terpilih, Donald Trump, berjanji untuk mengenakan tarif tambahan pada China, yang dapat memicu potensi perang dagang AS-China pada tahun ini.
- Kebijakan Moneter Federal Reserve: Pertemuan Federal Reserve pada Desember 2024 mengisyaratkan lebih sedikit pemotongan suku bunga pada 2025, karena inflasi tetap menjadi perhatian utama, yang selanjutnya meredam prospek pasar Asia.
- Krisis Politik di Korea Selatan: Korea Selatan mengalami krisis politik yang belum pernah terjadi sebelumnya setelah Presiden Yoon Suk Yeol mengumumkan darurat militer pada 3 Desember lalu, yang dengan cepat ditarik kembali karena tekanan parlemen.
- Pertumbuhan Ekonomi China: Aktivitas manufaktur China mengalami pertumbuhan yang lebih lemah dari yang diantisipasi pada Desember 2024, menurut data indeks manajer pembelian swasta (PMI) yang dirilis pada Kamis, yang menunjukkan bahwa dampak dari langkah-langkah stimulus baru-baru ini memudar.
Mata uang kawasan Asia lainnya bergerak variatif terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,38%, dolar Singapura menguat sebesar 0,23%, peso Filipina menguat 0,42%, won Korea menguat 0,70%, dan baht Thailand menguat 0,08%. Sementara itu, mata uang yang melemah di antaranya, ringgit Malaysia melemah 0,17%, rupee India melemah 0,08%, dolar Taiwan melemah sebesar 0,29%, dan dolar Hong Kong melemah 0,10%. Lalu, yuan China stagnan.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, memprediksi bahwa pada perdagangan berikutnya, mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.180-Rp16.270.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada awal tahun 2025 dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, termasuk kebijakan ekonomi AS, kebijakan moneter Federal Reserve, krisis politik di Korea Selatan, dan pertumbuhan ekonomi China. Perkembangan ini menunjukkan pentingnya pemantauan terhadap dinamika ekonomi global yang dapat memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah di masa mendatang.